dokter
dokter termuda

Inilah Dokter Termuda di Indonesia Yang Perlu Kita Ketahui

Posted on

Dokter termuda di indonesia

Grandpix thomryes (24 tahun)

grandpix thomryes
grandpix thomryes

Dokter termuda – Baru berusia 24 pemuda ini sudah menjadi dokter. Zaman sekarang rata rata mahasiswa di indonesia menyelesaikan sarjananya di usia 20-24 namun pemuda  satu ini umur 24 sudah digelar menjadi dokter. Pemuda ini kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung). Dia menyelesaikan sarjananya sampai S3.

Pemuda ini merupakan pemuda dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mampu mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka pada tanggal 22 september 2017. Tidak hanya lulus S3 bahkan pemuda ini mendapat predikat Cum Laude. Lalu dia mendapat beasiswaProgram Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di ITB.

Selama pemuda ini kuliah dia sudah 9x mengeluarkan publikasi seminar bertaraf internasional. Dia kuliah di ITB selama 4 tahun. Selama menyelesaikan program PMDSU dia memdapat bimbingan dari Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunadar, dan Dr. Nyoman Marsih sebagai promotornya.

Grandpix Thomryes Marth Kadja yang biasa di sebut gepe itu ternyata sangat gemar dengan tokoh asal jepang yaitu Sinchan. Di sela sela kesibukannya menimba ilmu gepe selalu menghibur diri dengan membaca komik Sinchan atau menonton film Sinchan.

Gepe mengatakan proses belajarnya dan menimba ilmunya berjalan seimbang. Gepe hanya belajar waktu di kampus sedangkan di rumah dia gunakan waktu untuk keluarga serta temannya. Selama dia di kampus dia mengerjakan kerjaan  kampus tetapi kalo di rumah dia main santai saja namun si kampus dia benar benar serius.

Pada tahun 2013, Prof. Ismunandar di minta untuk menyeleksi jumlah mahasiswa yang mendaftar  program PMDSU di ITB. Diapun memilih dengan cara melihat trackrecord pendaftar program itu khususnya pada jurusan kimia. Pada waktu Prof. Ismunandar melihat daftarnya dia melihat nama grandprix yang mempunyai trackrecord luar biasa dan pernah juara olimpiade sains nasional.

Setelah menyeleksi akhirnya prof. Ismunandar memutuskan bahwa Grandpix dan Erna febrianti terpilih sebagai anak didiknya. Keduanya sangat tekun saat mengikuti pengarahan yang di berikan oleh pembimbingnya. Menurut prof. Ismunandar grandpix adalah seseorang yang mudah di ajak komunikasi dan koordinasi.

Apapun yang dikerjakannya di laboratorium terorganisir dan akurat. Dia rajin menulis jurnal ilmiah berkualitas. Prof ismunandar menyebut pemuda kelahiran kupang, NTT pada tanggal 31 Maret 1993 itu seseorang yang sangat istimewa.

Gepe mengatakan bahwa dia lega bisa menyelesaikan ujiannya. Dan akhirnya diapun mendapatkan predikat cumlaude. Sebelum berstatus sebagai dosen dia hanya sebagai peneliti. Dia ingin lebih banyak meneliti sebab penerbitan jurnal ilmiah di indonesia kurang.

Grandpix atau gepe belajar sekitar 10 jam.  Pada awal masuk gepe punya tantangan yaitu karena datang dari jauh dari lahir sampai lulus SMA di NTT, kemudian harus ke ibu kota dan kuliah di Universitas Indonesia di tambah umurnya yang masih sangat muda. Dia harus menyesuaikan segi bahasanya, untung sekali  dia memiliki teman yang baik.

Riana Helmi (19 tahun)

riana helmi
riana helmi

Dokter termuda – Riana helmi mahasiswi dari UGM (Universitas GajahMada) di Yogyakarta.  Dia dilantik dengan 142 dokter baru dari UGM pada periode III tahun ajaran 2010/2011. Terdiri atas 4 laki laki dan 96 perempuan, yang langsung dilantik oleh Dekan Fakultas Kedokteran yaitu Prof. dr. Ali Ghufron Mukti.

Sebelumnya riana helmi pernah mencacat rekor MURI  saat menjadi dokter muda pada usia 17 tahun pada bulan mei 2009. Kemudian riana meyelesaikan kuliahnya hingga menjadi  dokter penuh di usia 19 tahun. Meskipun riana merupakan dokter termuda namun prof. ali ghufron mengatakan bahwa riana sudah matang baik psikologis maupun sosial.

Dengan dilantiknya 142 dokter baru, sampai saat ini fakultas kedokteran UGM  sudah meluluskan 7.204 dokter. Dari 142 dokter yang baru dilantik, 83 dokter lulus dengan menbawa predikat cumlaude. Riana helmi merupakan perempuan kelahiran Banda Aceh,22 Maret 1991. Riana tercatat lulus SD pada usia 10 tahun, lulus SMP pada usia 12 tahun, lulus SMA diusia 14 tahun.

Dia lulus cepat disebabkan dia mengikuti program akselerasi. Program akselerasi adalah program layanan pendidikan khusus untuk peserta didik yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan sangatistimewa degan penyelesaian waktu belajar lebih cepat dari waktu normal.

Dia kuliah di jurusan kedokteran pada usia 14 tahun kemudian lulus menempuh kuliah selama 5 tahun. Meskipun tercatat sebagai sarjana kedokteran termuda riana juga tercatat sebagai dokter termuda, meskipun demikian prof ali ghufron sangat yakin bahwa riana sudah mampu dan telah matang baik secara psikologis maupun sosial, sehingga tidak akan  kesulitan saat terjun ke lapangan.

Di dalam pelantikan itu riana helmi juga mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Piagam penghargaan itu diserahkan oleh  Sri Widayanti perwakilan ketua MURI,jaya suprana,kepada Deawn Fakultas Kedokteran sebelum diserahkan ke Riana Helmi.

Meskipun umurnya yang muda namun Riana Helmi sangat spektakuler dan cukup membanggakan. Namun saat dia masuk UGM Riana tidak memperoleh perlakuan istimewa dari dosen maupun teman temannya. Dia tetap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh staf pengajar di UGM. Bahkan saat usia 3 tahun Riana sudah bisa membaca dan dia sangat ngotot mau sekolah. Dikarenakan dia sangat senang melihat sekolahan. Akhirnya pada umur 4 tahun ayahnya memasukkan Riana ke sekolah dasar (SD).

Sejak umur 2 tahun anak sulungnya ini sudah menunjukkan kesukaannya pada buku. Bahkan di usia yang masih dini itu  Riana meminta ayahnya untuk membelikan buku untuk belajar. Dan orangtuanya sering dipaksa untuk mengajarinya sampai bisa bahkan biasanya sampai larut malam. Dan sampai benar benar bisa.

Selain suka membaca sejak kecil Riana Helmi tidak menyukai boneka bahkan cenderung takut dengan boneka. Sedangkan kebanyakan anak kecil adalah menyukai boneka. Namun keberhasilan Riana Helmi tentu melalui proses yang tidak mudah karena riana hidup di keluarga yang sederhana.

Ayah riana juga berperan aktif. Riana melihat ayahnya jadi terinspirasi bahwa harus menjadi orang yang bersungguh sungguh dan kerja keras. Sejak kecil riana  sudah jarang bermain layaknya anak anak  seusianya. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan dia sangat menikmatinya. Cita citanya sejak kecil yaitu ingin menjadi dokter.

Selama 6 tahun di sekolah dasar (SD) riana mendapatkan prestasi yang sangat membanggakan. Setelah itu dia melakukan beberapa tes IQ akademik untuk  mengikuti program percepatan (akselerasi). Akhirnya hasilnya lolos uji sehingga dia menamatkan SMP dan  SMA masing masing 2 tahun. Dan diapun lulus pada umur 14 tahun.

Setelah itu dia masuk kedalam dunia kampus, di kampus riana menghabiskan waktunya untuk banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman temannya. Menurut riana gerbang menuju ilmu pengetahuan adalah dengan rajin membaca.

Selain bercita cita ingin menjadi dokter riana juga bercita cita ingin menjadi dosen.  Dia ingin agar bisa terus belajar dan mengajarkan serta menambah pengetahuan. Karena ayahnya adalah seorang polisi membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini harus berpindah pindah domisili. Mulai dari Aceh, Sukabumi, dan Karawang.

Riana menilai ayahnya sebagai orangtua yang sangat peduli dengan perkembangan pendidikan anaknya. Ayahnya selalu mengajarkan kegigihan padanya.