pahlawan nasional wanita
pahlawan nasional wanita

Pahlawan Nasional Wanita Terhebat di Penjajahan Belanda

Posted on

Pahlawan Nasional Wanita – Kali ini kami akan membahas tentang pahlawan nasional wanita. Pada zaman penjajahan wanita-wanita ini ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan berarti seseorang yang mempunyai keberanian dan pengorbanan membela kebenaran bagi bangsa Indonesia.

Pahlawan nasional merupakan gelar penghargaan tertinggi di Indonesia. Dari surat keputusan presiden, ada 159 tokoh pahlawan indonesia dan 12 diantaranya adalah para pahlawan nasional wanita, yaitu:

Cut Nyak Dhien – Aceh

Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien

Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional wanita Indonesia. Cut nyak dhien berasal dari keluarga bangsawan. Pada umur 12 tahun, beliau dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim, putra dari uleebalang lamnga XIII.

Masa perjuangan melawan penjajah belanda

Di tanggal 26 Maret 1873, belanda menyatakan perang kepada aceh dan mulai melepaskan tembaka meriam ke dataran aceh.  Dan di tanggal  8 april 1873, belanda berhasil menguasai masjid raya baiturrahman serta membakarnya. Dan berhasil menduduki daerah VI mukim.

Hal itu membuat suaminya cut nyak dhien merebutnya. Akan tetapi sayangnya suaminya cut nyak dhien gugru dalam pernag di Gle Tarum pada tanggal 29 juni 1878. Cut nyak dhien menjadi sangat marah dan beliau bersumpah akan meneruskan perjuangan suaminya dan  meghancurkan belanda.

Dan akhirnya cut nyak dhien menjanda, tetapi status jandanya tidak lah lama, setelah itu cut nyak dhien di pinang oleh salah satu pejuang aceh yaitu teuku umar. Selain dijadikan seorang istri cut nyak dhien juga menjadi rekan perjuangan.

Bersama teuku umar, cut nyak dhien membangun kembali kekuatan dan meningkatkan moral semangat perjuangan aceh melawan belanda di sejumlah tempat di aceh. Teuku umar dan cut nyak dhien merupakan dua orang yang berbahaya bagi kekuasaan belanda di aceh.

Namun di tanggal 11 februari 1899 teuku umar gugur dalam perangnya melawan belanda. Hal tersebut membuat cut nyak dhien semakin melemah. Cut nyak dhien mendapatkan tekanan terus oleh belanda ditambah dengan kondisi fisik yang tidak mendukung. Dan juga kesehatannya yang semakin lama semakin menurun.

Pada akhirnya belanda berhasil menangkap cut nyak dhien di Beutong Le Sageu. Cut nyak dhien di asingkan ke sumedang guna untuk menghindari pengaruh cut nyak dhien pada aceh.  Ketika di asingkan di sumedang cut nyak dhien dijuluki dengan julukan Ibu Perbu.

Cut nyak dhien yang sudah sangat renta dan mengalami gangguan, beberapa ulama menyadari bahwa cut nyak dhien merupakan seorang muslimah yang ahli ilmu agama islam. Kegiatan yang dilakukan  cut nyak dhien memberikan pengaruh yang sangat besar bagi sumedang. Beliau mangajarkan agama islam. Presiden soekarno mengakui bahwa cut nyak dhien merupakan pahlawan nasional melalui SK presiden Republik Indonesia No. 106 Tahun 1964 di tanggal 2 Mei 1964.

Cut Nyak Meutia – Aceh

Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia

Beliau adalah salah satu pahlawan nasional yang mempunyai nilai semangat yang sangat tinggi dan juga tekad untuk mengusir penjajah belanda. Di masa perjuangannya cut nyak meutia melawan belanda dengan suaminya.

Suaminya bernama teuku tjik tunong. Mereka merupakan pasangan suami-istri sekaligus teman perjuangan yang solid untuk melawan penjajah belanda. Akhirnya suami cut nyak meutia di tangkap oleh belanda dan diberi hukuman mati di tepi pantai Lhokseumawe.

Akan tetapi sebelum teuku tjik meninggal dunia beliau meninggalkan sebuah pesan untuk sang istri kepada sahabatnya, yaitu supaya dia menikahi istrinya dan merawat anak-anaknya. Akhirnya cut nyak meutia menikah dengan sahabat suaminya yaitu Pang Nagroe.

Akan tetapi sayangnya di tanggal 26 september 1910 Pang Nagroe gugur dalam perangnya pada saat melawan korps melawan belanda. Akhirnya cut nyak meutia melarikan diri ke dalam hutan dan berhasil selamat bersama para wanita lainnya.

Setelah kematian Pang Nagroe suami keduanya, cut nyak meutia tetap melanjutkan perjuangan melawan belanda bersama dengan pengikutnya. Mereka telah berusaha dengan semangat dan juga kerja keras untukmerampas pos-pos kolonial sepanjang perjalanan ke Gayo melewati hutan belantara.

Akan tetapi pada pertempuran tanggal 24 oktober 1910 di Alue Kureing , cut nyak meutia tertembak dan dinyatakan gugur. Semua semangat dan juga kerja kerasnya pemerintah menganugerahi gelar oahlawan nasinal indonesia berdasarkan SK presiden RI No 107 tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964.

Raden Ajeng Kartini – Jepara

Raden Ajeng Kartini
Raden Ajeng Kartini

Pejuang wanita ini sudah sangat terkenal di Indonesia. Pejuang wanita ini berasal dari Jepara. Raden ajeng kartini dikenal sebagai seorang wanita yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Raden ajeng kartini lahir pada tanggal 21 april 1879, hari kelahiran kartini ini diperingatoi sebagai hari kartini.

Hari kartini diperingati guna untuk menghormati dan juga mengenang semua jasa-jasanya terhadap bangsa Indonesia.  Kartini merupakan keturunan keluarga bangsawan. Kartini merasakan banyaksekali diskriminasi antara pria dan juga wanita.

Dimana beliau dan juga kalangan wanita lainnya tidak boleh menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kartini tertarik dengan kemajuan dan pola pikir perempuan Eropa setelah banyak membaca buku-buku ataupun majalah majalah eropa.

Akhirnya pada tangal 12 november 1903, kartini di nikahkan oleh kedua orang tuanya dengan bupati rembang, yaitu K.R.M Adipati Singgih Adhiningrat. Kartini meninggal dunia 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya.

Dengan wafatnya kartini tidak membuat perjuangannya berakhir sebagai pelopor emansipasi wanita, temannya di belanda yaitu Abendanon mengumpulkan semua surat-surat yang dahulu pernah di kirimkan oleh kartini kepada teman-temannya di Eropa.

Kemudian surat-surat itu di bukukan oleh Abendanon dan di beri judul Door Duisternis to Licht yang  bermakna Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku ini terbit pada tahun 1911 dalam bahasa Belanda. Di tahun 1922 balai pustaka menerbitkan berisi translasi buku dari Abendon dengan judul Habis Gelap  Terbitlah Terang dengan bahasa melayu.

Beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai diterbitkan, guna untuk tidak ada yang melupakan jasa-jasa perjuangan Raden Ajeng Kartini semasa hidupnya. Berkat perjuangannya, pada tanggal 2 mei 1964 pemerintah menaganugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Raden Ajeng Kartini berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 108 tahun 1964.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Terus kunjungi website kami dan nantikan informasi-informasi terbaru lainnya. Terima Kasih.