legenda mambang linau
mambang linau

Cerita Dongeng dan Legenda dari Riau yang Menarik

Posted on

Cerita rakyat riau- Pasti di daerah kalian mempunyai berbagai cerita rakyat masing masing kan? Berikut saya akan mengulas berbagai cerita  dari daerah riau.

Cerita donggeng rakyat riau: rubah hitam menjadi raja rimba

Didalam hutan rimba banyak sekali binatang yang hidup disana, seekor macan yang besar kuat pintar nan bijaksana. Dialah yang menguasai hutan rimba. Tetapi sekarang macan tersebut sudah tidak menguasai hutan tersebut, dikarenakan macan tersebut entah menghilang kemana diperkirakan sudah di bawa oleh pemburu.

Setelah menghilangnnya macan itu para binatang mengadakan rapat penting untuk memilih raja rimba yang baru. Di rapat penting itu terdapat 4 hewan sebagai calon raja yang baru yaitu rusa, keledai, burung kakak tua, dan kera coklat. Dan para hewan akhirnya meilih kera coklat untuk menjadi raja rimba.

Namun kera coklat tersebut sangatlah rakus dan tamak setiap hari dia menyuruh kera kera lain mengambilkan seluruh makanan di seluruh hutam rimba tersebut tetapi makanan yang telah di ambilkan itu tidak pernah di habiskan olehnya.

Seekor rubah yang pernah ingin menjadi raja rimba itu melihat kesempatan, sang rubah sangat tidak menyukai kera coklat itu karena ketika pemilihan calon raja rimba dia menggeser posisi sang rubah dan inilah saatnya sang rubah membalas dendam pada sang kera coklat.

Pada suatu hari rubah menghampiri sang raja rimba yaitu kera coklat, dia memberitakan sebuah benda aneh yang berisi makanan yang banyak dan makanan itu kelihatan sangat lezat. Kera coklat yang sangat rakus dan tamak itupun sangat senang dan menyuruh sang rubah untuk menunjukkan jalannya sampai mereka ke tempat benda aneh tersebut.

Ketika sang kera coklat tersebut mengambi makanan yang ada di tangannya itu tangannya langsung terjepit oleh benda aneh tersebut, tetapi sang rubah sudah tahu kalau benda aneh itu adalah sebuah perangkap dan dia sengaja mau menipu kera coklat tersebut. Akhirnya sang kera coklat di bawa oleh para pemburu seperti raja rimba yang dahulu yaitu macan.

Setelah kera coklat itu di bawa oleh pemburu posisi raja rimba pun kembai kosong. Para hewanpun mengadakan rapat kembali untuk mencari raja rimba yang baru. Sang rubah yang pendendam itu pun maju mencalonkan sebagai raja rimba dan akli ini saingannya adalah seekor gajah.Para hewanpun mendiskusikan sampai lama sekali siapa yang menjadi raja rimba selanjutnya. Rapatpun ditunda sampai besok karena para hewan masih binggung.

Keesokan harinya di tunjuklah raja rimba yang selanjutnya yaitu sang rubah. Sang rubah sangatlah senang dengan keputusan rapat itu. Dan sang rubah menjadi raja tetapi safatnya tidaklah jauh beda dengan sifatnya sang kera coklat yaitu rakus dan tamak. Dan hewan hewan di hutan rimba itupun bernasib sama saat sang kera coklat menjabat sebagai raja di hutan rimba.

Cerita legenda putri mambang linau

legenda mambang linau
mambang linau

Alkisah, di tanah bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama bujang enok. Dia hidup miskin dan sebatang kara, tak beribu, tak berayah, juga tak bersaudara. Tetapi dia merupakan pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari harinya adalah mencari kayu di hutan kemudian dijual di pasar di tukar dengan beras dan keperluan hidup lainnya.

Suatu hari, bujang enok sedang berjalan menuju hutan di tengah tengah perjalanan, tiba tiba ada ular yang menghadang dia. Ular itu berdesis menjulur julurkan lidahnya ke arah bujang enok. Ketika bujang enok melihat ular itu  bujang enok berusaha menghalaunya dengan baik, tetapi ular itu tidak mau pergi  juga. Kemudian bujang enok mendiamkan ular tersebut, ketika di diamkan malah ular tersebut hendak mematuk bujang enok.

Dengan terpaksa, bujang enok melecut ular tersebut dengan tongkat rotan, pusaka peninggalan ayahnya. Dengan sekali lecut ular itu langsung menggeliat, kemudian mati. Setelah melihat ular itu tidak bergerak, bujang enok langsung mengubur ular itu di pinggir jalan. Kemudian bujang enok mengumpulkan kayu lagi.

Ketika bujang enok akan memulai mengambil kayu di hutan dia mendengar suara perempuan sedang berbincang bincang, “ular itu sudah mati” kata seorang perempuan dari arah lubuk di hulu sungai. “syukurlah kita tidak diganggu ular itu lagi” sahut perempuan lainnya. Semakin lama suara perempuan itu terdengar semakin jelas di telingga bujang enok. Tetapi bujang enok tidak menghiraukan suara tersebut, dan meneruskan pekerjaannya yaitu mengambil kayu di dalam hutan.

Pada saat tengah hari, seperti biasanya bujang enok pulang ke pondoknya. Ketika bujang enok masuk ke dalam dapur, bujang enok merasa heran. Karena di dapurnya telah tersedia  nasi dan segala lauk pauk yang lezat rasanya. Karena lapar bujang enok pun memakan semua hidangan yang tersaji itu.

Sambil menikmati makanan tersebut bujang enok menebak nebak dalam hati “ siapa ya yang menhidang kan semu makanan ini padahal ibuku sudah meninggal dan aku pun tidak mempunyai saudara”. Pikiran pikiran itu terus menerus ada di benaknya bujang enok. Ia pun berniat untuk mencari tahu siapa orang yang menghidangkan makanan ini.

Keesokan harinya, bujang enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang berani masuk kedalam pondoknya. Pada hari itu dia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi sampai siang bujang enok menunggu nunggu siapakah orang yang masuk kedalam pondoknya. Bujang enok menunggu orang itu diantara semak semak yang tak jauh dari pondoknya.

Menjelang tengah hari tiba-tiba dari arah lubuk hulu sungai muncullah tujuh gadis jelita. Mereka muncul beriringan dan menjunjung hidangan lalu masuk kedalam pondok bujang enok. Ketujuh gadis jelita itu memakai selendang berwarna pelangi. Tetapi di antara ketujuh gadis itu gadis yang memakai selendang jingga lah yang paling cantik.

Tidak lama kemudian, ketujuh gadis tersebut keluar dari pondok bujang enok. Dan berjalan ke arah hulu sungai. Dengan langkah sangat hati hati bujang enok mengikuti ketujuh gadis jelita itu hingga pinggir lubuk hulu sungai, kemudian bujang enok bersembunyi di semak semak. Di balik semak semak bujang enok dapat melihat ketujuh gadis jelita itu sedang bergantian pakaian yang akan mandi. Ketujuh gadis jelita itu menyangkutkan selendangnya di ranting pohon yang ada di sekitar sungai tempat ketujuh gadis jelita itu mandi.

Mereka mandi sambil bersenda gurau. Hingga mereka tidak menyadari keberadaan bujang enok.  Suasana yang ramai itu oleh bujang enok digunakan sebagai kesempatan untuk mengambil salah satu selendang yang tergantung di rantai pohon.

Setelah selesai mandi ketujuh gadis tersebutpun naik ke tepi lubuk kemudian berganti pakaian. Semua gadis itu mengambil selendangnya masing-masing sedangkan salah satu dari ketujuh gadis itu ada yang kehilangan selendang.

Kemudian gadis yang kehilangan selendang itu mencari selendangnya yang tak kunjung ketemu gadis yang lainnya pun juga ikut mencarinya. Menjelang sore, keenam gadis itu yang telah memakai selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang tadi di tepi lubuk.

Bujang enok yang melihat kejadian itu pun tercenggang-cenggang. Dia tidak berkedip sedikitpun melihat keenam gadis itu terbang keangkasa. Kemudian bujang enok keluar dari persembunyiannya dan mneghampiri gadis yang mencari selendangnya tadi.

Lalu bujang enok bertanya pada gadis tersebut “apa yang sedang engkau cari wahai gadis jelita?” lalu gadis jelita itu menjawab “tuan, apabila eangkau menngetahui selendang berwarna jingga mohon kembalikan kepada saya” pinta gadis jelita itu sambil menyembah.

Bujang enok menggelengkan kepalanya dan berkata: “ saya akan mengembalikan selendang anda tetapi ada syaratnya, engkau harus bersedia menikah dengan ku”. “ya, saya bersedia menikah dengan tuan tetapi anda juga harus bersedia juga apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita bercerai”. Kata gadis jelita itu.

“baiklah, saya bersedia mengingat janji itu. Saya bujang enok”. Bujang enok memperkenalkan dirinya. “saya mambang linau” kata gadis jelita itu. Sejak saat itu mambang linau dan bujang enok menjalin cinta kasih. Sejak menikah dengan mambang linau, bujang enok semakin terkenal di  kampungnya dengan sifat murah hatinya. Sampai raja yang berkuasa di negri itu mendengar kisah tentang bujang enok.

Kemudian sang raja memanggil bujang enok untuk menghadap kepadanya. Setelah dihadapan raja bujang enok berkata “Ampun baginda, Ada apa gerangan memangil hamba?” sambil memberi hormat kepada raja. Kemudian raja bertanya “wahai bujang enok, maukah engkau aku jadikan batin?” lalu bujang enok menjawab “ampun baginda jika itu merupakan kehendak raja dengan senang hati hamba bersedia” Dan bujang enokpun di angkat sebagai batin (Kepala Kampung) di kampung Petalangan.

Sejak menjadi batin bujang enok jadi salah satu orang kepercayaan raja. Setiap raja mengadakan pesta raja selalu mengundang bujang enok. Pada suatu hari , raja membuat pesta diistana. Didalam pesta tersebut terdapat tarian-tarian yang dipersembahkan oleh para dayang, istri pembesar istana, istri penghulu istana dan kepercayan raja.

Acarapun di mulai, satu persatu para istri mempersembahkan tarian mereka. Mambang linau yang menyaksikan pertunjukkan tarian itu pun mualai berdebar-debar. Dalam hatinya dia berkata “jika aku ikut menari berarti aku bercerai dengan bujang enok”.

Baru  saja mambang linau bergumam sekarang adalah giliran mambang linau. “kami persilahkan putri mambang linau” kata raja dan diiringi tepuk tangan oleh para hadirin. Mendengar perkatan raja mambang linaupun semakin berdebar-debar. Bujang enok yang duduk disampingnya menoleh ke istrinya. “wahai istriku, aku menjujung tinggi perkatan raja”. Kata bujang enok. Mambang linau mengerti apa yang di maksud suaminya.

Sebelum tariannya dimulai, mambang linau melakukan gerakan-gerakan persembahan untuk menjaga kesopanan didalam istana dan menghormati raja terlebih dahulu. Kemudian mambang linau pun menari layaknya burung elang. Perlahan kakinya diangkat seperti tak berpijak dibumi. Tiba-tiba mambang linau meliukkan tubuhnya, dan seketika itu terbang melayang ke angkasa.

Semua hadirin tercenggang-cenggang menyaksikan kejadian tersebut. Sejak saat itu mambang linaupun tidak pernah kembali lagi. Dan mulai dari saat itulah mambang linau dan bujang enok pun bercerai. Betapa besar pengorbanannya bujang enok sang raja yang mengetahui hal itu langsung menganugrahi bujang enok sebuah penghormatan yaitu dilantiknya menjadi penghulu yang berkuasa di istana.

Setelah kejadian itu, raja negri bertitah bahwa untuk menghormati pergorbanan bujang enok, maka setiap tahun diadakn pesta tari persembahan. Tarian itu mengisahkan mambang linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan bujang enok. Tarian itu diberi nama tari elang-elang. Kini masyarakat riau menyebutnya tari olang-olang. Tarian ini diiringi  oleh gendang (gubano) rebab, gong, dan calempong. Tarian ini sering dijumpai di daerah kecamatan siak dan merbau, kabupaten bengkalis, riau, indonesia.